Dwi Setiyadi

Goresan di Atas Air. Cawan untuk menuangkan ide, gagasan, kejadian sehari-hari yang saya alami, serta tempat untuk saya berbagi karya. Read more »

Resensi Setengah Hati, novel “Facebook on Love” { 2 }

Facebook on Love Cover BookMinggu sore (11/10/09), Burhan sms gue yang isinya ngajakin ketemuan di Plaza Bintaro buat ngobrol bebas seputaran bisnis yang sama-sama dulu kita bangun, barengan jawara ghokil yang sekarang mungkin masih sumringah dia bisa ke Malaysia, atau melongo dengan wajah noraknya mengamati perkotaan yang tidak sama dengan kampungnya di Cirendeu (mudah-mudahan orangnya ngga sadar kalo lagi dipuji abis-abisan disini). Namanya diajak pasti ditraktir nih, dengan semangat gue terima ajakan itu, tapi pas ditanya yang menanggung biaya-biaya “ngobrol” siapa, Burhan bilang “Bayar sendiri-sendiri!”. Glodak!!!! Semaput dah gue.

Ok, sebelum semakin out of topic, lebih baik straight to the point (ya elah, namanya juga resensi setengah hati, jangan diambil serius napa) ceritanya disela-sela obrolan tingkat tinggi kita, ngga sengaja lihat judul novel yang dipajang persis dipintu masuk Gramedia yang sangat menarik perhatian. Ya, novel itu berjudul “Facebook on Love”, wah fenomena yang sangat mungkin terjadi diantara temen-temen gue macam Hisnu, Herdi, Nabil, bahkan Burhan, dan lainnya (gue ngga termasuk ya). Kayak gimana sih isinya? Jangan kemana-mana, akan segera dibahas setelah paragraf berikut ini.

Cerita dimulai dengan salah sangka Fadli yang mengira kalau Dea adalah mantan kekasih kakak sepupunya, Fadli nge-add lebih dulu Dea pada situs jejaing sosial yang sedang ngetop yaitu Facebook. Awalnya mungkin tidak ada yang salah dengan hal itu, tapi kemudian jadi timbul masalah kemudian gara-gara Dea suka me-review buku-buku yang baru selesai dibacanya atau film yang baru selesai ia tonton, dan si Fadli ini seperti kurang kerjaan selalu ada saja kritikan yang mendarat di lapangan komentar.

Dalam sebuah kebetulan yang tidak diduga-duga, akhirnya mereka dipertemukan disebuah perusahaan penerbitan sebagai atasan dan bawahan. Jika di Facebook si Fadli pria bergaya aristokrat yang dikenal sebagai bos killer, dan si Dea yang cuek, pembangkang tingkat tinggi, ceplas-ceplos, tapi juga smart, selalu beradu otot, bagaimana di dunia nyata? Ternyata lebih parah, bahkan setiap pertengkarannya selalu sampai terlihat dan terdengar ke seluruh karyawan di penerbitan tersebut.

Hingga suatu hari perubahan yang sangat drastis terjadi dalam hubungan mereka, ketika mereka menemukan bayi kembar yang terbuang di parking lot kantor mereka. Lalu apa yang akan mereka lakukan pada bayi kembar itu? Dibuang ke panti asuhan, atau mau dirawat sendiri? Kalau dirawat sendiri siapa yang mau merawat? Fadli atau Dea? Atau mereka rawat berdua sebagai suami istri dan Ayah Bunda bagi si kembar? Maukah mereka melakukannya? Ditambah lagi masa lalu mereka masing-masing sungguhlah kelam. So, can you facebookers, guess what’s next? Silly and touchy in once!.

Buat gue pribadi, gue tertarik sama gaya bahasa yang disampaikan oleh Mbak Ifa Avianty si penulis, “gue banget” gitu lho. Mengupas fenomena masyarakat urban yang sedang nge-trend, lalu membungkusnya dengan moral yang kuat pada kisahnya serta dekat sekali dengan kehidupan kita sehari-hari, seperti kita mengalaminya sendiri. Buat elo yang cukup jenuh sama buku-buku intelektual yang tebel dan cukup jitu buat nimpuk temen yang nyebelin, novel ini cukup bagus buat selingan, atau sekedar buat kado bagi kenalan kita. Selamat membaca.

Jakarta, 13 Oktober 2009

2 Comments For This Post

  1. caesar

    boleh juga artikel nya

  2. dwi

    Apanya yang boleh cuy?

Leave a Reply