Dwi Setiyadi

Goresan di Atas Air. Cawan untuk menuangkan ide, gagasan, kejadian sehari-hari yang saya alami, serta tempat untuk saya berbagi karya. Read more »

Menjegal Blackberry A.K.A Membangun Persistent Mobile Internet Service { 0 }

“Ini Blackberry lho mas”, ucap penjual bangga. “Ya saya juga tau mbak, kan ada tulisannya disitu”, sungut pembeli tidak mau kalah. “Maksudnya mas, bukan HP biasa”, balas penjual itu lagi. “Saya juga tau, ngapain saya beli kalo ngga tau teknologinya, si mbak sok hi-tech banget sih, kalo ditanya push email juga ngga tau kan? Itu lho email yang didorong”, balas pembeli dengan nada humor. “Pake gerobak mas dorongnya!”, seloroh penjual yang ternyata lebih hebat melucu.

Tidak salah memang jika sang penjual Blackberry pada percakapan diatas berpendapat kalau Blackberry bukan sekedar perangkat ponsel biasa, mudah-mudahan bukan hanya didasari oleh harganya saja yang tidak biasa. Lalu apa sih yang membuatnya berbeda? Secara fisik Blackberry sebetulnya sama saja dengan HP berteknologi keluaran vendor lain, seperti Nokia, Sony Ericsson, Samsung, HTC, dan lain-lain dengan beragam sistem operasi dan rupa. Lalu yang benar-benar membuatnya “beda” adalah “service”-nya yaitu layanan mobile internet yang sangat khas dengan teknologi push emailnya.

Konsep kerja layanannya tidak terlalu rumit, Blackberry menyediakan server raksasa sebagai supplier data dari internet, lalu data tersebut ditendang/didorong ke server operator telekomunikasi yang kemudian dilempar lagi ke pengguna. Berlaku sebaliknya ketika pengguna melakukan request data dari internet. Dengan begitu Blackberry menyediakan akses internet secara dedicated dan persistent (terus-menerus) ke operator, sedangkan operator hanya perantara antara pengguna dan server Blackberry, alhasil layanan internetnya lebih stabil dan tidak putus-putus. Maka tidak heran jika pengguna diwajibkan membayar iuran bulanan atas layanan ini.

Coba bayangkan jika di Indonesia ada perusahaan telekomunikasi yang seperti itu, dapat diperkirakan perangkat internet bergerak sangat murah harganya, dan tentu berimplikasi pada bidang ekonomi yang berkembang. Pertanyaan selanjutnya, dengan konsep yang demikian apakah pelaku profesi bidang teknologi informasi di Indonesia dapat membuat teknologi yang demikian? Memang secara teknis tidak sesederhana itu, tapi sebagai orang yang bekerja pada bidang ini, saya yakin sekali Indonesia dapat membuatnya. Persoalannya hanya tinggal modal dana besar untuk mendukung project seperti ini.

Saya membayangkan, hanya perlu ada satu perusahaan ISP (Internet Service Provider) yang me-leading terciptanya service ala Blacberry ini, katakanlah perusahaan A. Mempersiapkan infra struktur server raksasa yang dapat menampung kebutuhan internet manusia se-Indonesia. Lalu A menjalin kerjasama dengan produsen handset lokal yang kini cukup meramaikan pasar handset tanah air dengan ponsel TV nya, dan merancang handset berteknologi yang mendukung project ini, mungkin sistem operasinya bisa mengandalkan Google Android yang sangat canggih dan bersifat open source alias gratis, pastinya akan jadi handset berteknologi dengan harga bersahabat. Langkah terakhirnya adalah bekerjasama dengan operator telekomunikasi untuk masuk ke pasar end user. Benar-benar sebuah angan-angan yang dapat direalisasikan.

Baiklah, mungkin hanya tinggal masalah waktu. Kita tunggu saja produsen lokal unjuk gigi agar ekonomi kerakyatan lebih hidup, dan mampu mengalahkan produsen asing agar orang asing tidak terlalu ambil untung banyak dinegara kita. Kalo tidak ada yang siap untuk mewujudkannya. Saya siap 100% untuk mewujudkan teknologi ini, dengan catatan ada uang yang jatuh dari langit untuk membiayainya, hehe.

Jakarta, 28 Oktober 2009

Leave a Reply